MENEMBUS TAPAK UJUNG HOKKAIDO :

Menjelajah Segala Hal Yang Paling Utara, dan Silaturahmi Tak Terduga Sesama Anak Bangsa di Titik Paling Utara Negeri Matahari Terbit

Oleh: Tun Ahmad Gazali,SH.,M.Eng.,Ph.D. *)

 

Dari berbagai kisah perjalanan, ada yang lahir dari ruang kosong dalam kesibukan. Bukan hasil rencana panjang, bukan sekadar wisata biasa, melainkan semacam panggilan dari dalam diri ketika itu: "Ayo, berangkatlah, sejauh yang kau bisa."  Sesekali berjalan tanpa rencana untuk sekadar berwisata. Perjalanan yang lahir dari jeda waktu yang tiba-tiba terbuka di antara 2 kegiatan, menunggu untuk diisi dan saya merasa sangat sayang untuk hanya dilewatkan.

Itulah yang membawa saya ke Tanjung Soya, titik paling utara Jepang, menembus jalanan yang umumnya sunyi di pulau Hokkaido ini melintasi hamparan hijau yang baru bangkit dari dinginnya musim, berteman dengan alam liar, dan tanpa diduga: mempertemukan takdir dengan sesama anak bangsa di ujung bumi paling utara Jepang.

Kisah yang saya bagi unggah ini berawal dari jeda waktu kosong menunggu keberangkatan Silver Ferry di Pelabuhan Tomakomai yang baru akan berangkat menjelang tengah malam, yang akan mengantarkan saya menuju Pelabuhan Ferry Hachinohe dan sebelum akhirnya tiba di pelukan hangat keluarga saya di rumah kami di Kota Kitakami. Sementara menunggu, saya memilih untuk mengisi hari itu dengan sebuah petualangan tanpa rencana menuju ke ujung paling utara Hokkaido, mengemudi sendiri, saya melaju menembus jalanan panjang menuju point paling utara Jepang !

Dan saya menemukan informasi di internet bahwa itu adalah Tanjung Soya. Dan ketika saya membuka peta, ada sebuah titik di peta Jepang, jauh di ujung utara, tempat daratan perlahan meruncing ke arah lautan dingin. Tempat itu bernama Sōya Misaki, Tanjung Soya dan ditulis dalam huruf kanjinya adalah 宗谷岬. Mungkin bagi sebagian orang, ini hanyalah koordinat geografis: titik paling utara dari Negeri Matahari Terbit. Tetapi bagi para penjelajah, petualang, dan jiwa-jiwa yang mendambakan sesuatu yang tak biasanya, Sōya Misaki bukan sekadar tempat, dia adalah produk perasaan setelah meraihnya dengan perjalanan panjang.

Dari situs ana.co.jp,  saya mendapat tambahan info yang makin menggugah minat saya untuk kesana, bahwa dengan lokasi yang terletak di garis lintang 45 derajat, 31 menit, 14 detik di utara, Tanjung Soya adalah titik paling utara Jepang. Titik ini ditandai dengan monumen berbentuk piramida segitiga setinggi 5,44 dengan motif Bintang Utara. Monumen ini diterangi pada malam hari sebagai simbol ilham surgawi. Monumen ini adalah titik yang terkenal untuk banyak orang mengambil foto kenang-kenangan kunjungan mereka.

Di lokasi itu kita bisa merasakan angin utara yang seakan tak pernah tidur. Ia bertiup kencang dari Laut Okhotsk, menerangkan butiran-butiran debu di monumen segitiga yang kokoh menantang cakrawala.

Meski sudah banyak perjalanan saya berkeliling Jepang gratis sembari mencari nafkah, perjalanan saya kali  ini bukan hanya sekedar perjalanan geografis. Ternyata ini menjadi bagian dari bertambahnya rangkaian kisah perjalanan hidup saya. Setelah mengabdi lebih dari 30 tahun sebagai Pegawai Negeri Sipil Pemerintah Provinsi  Jawa Timur , saya mengajukan pensiun dini dengan hak pensiun pada akhir tahun 2019 lalu. Saya bersyukur mendapatkan kesempatan baru untuk melanjutkan hidup, kehidupan, dan karir di negeri matahari terbit ini. Sebuah negeri yang bukan hanya memberi saya rizki untuk nafkah kami sekeluarga bertujuh orang,  tetapi juga ternyata menjadi ladang baru untuk memuaskan salah satu hobby  saya, yaitu menjelajah dan mengemudi menempuh jarak-jarak extra super jauh, karena saya amat suka mengemudi minimal 10 jam perjalanan sekali menginjak pedal gas.

Bulan Mei baru lalu di Hokkaido adalah masa ketika bumi mulai bangkit dari beku dan  musim semi yang cerah di banyak tempat di Jepang. Namun semakin saya melaju ke utara, warna musim semi berubah perlahan. Pohon-pohon masih malu-malu mengeluarkan tunas, udara tetap menyimpan dingin yang tajam, seakan musim dingin belum sepenuhnya rela pergi. Udara masih sejuk, bersih, dan menyegarkan. Jalanan panjang di utara Hokkaido terasa kosong, lengang, seperti jalur menuju keheningan pribadi saya sendiri. Boleh dibilang tak ada kemacetan, jarang sekali kendaraan berpapasan. Hanya saya, mobil Mazda Biante saya, dan suara angin yang berbisik lembut disela-sela jendela kaca yang saya buka sidikit agar ada anginmasuk mengurangi rasa kantuk yang sesekali menimpa karena menngemudi sendirian di mobil berkapasitas 7 orang ini. Sesekali, binatang liar muncul di rute perjalanan yang saya lalui. Rubah kecil liar berlari tergesa menyeberang jalan dan sesekali saya melihat kawanan mereka tampak mengintip dari balik semak hijau, dan tak jarang rusa liar muncul melompat anggun melintasi jalanan panjang Hokkaido yang tenang. Wow, setiap perjumpaan dengan makhluk liar itu menghadirkan getaran keindahan alam yang bebas, yang seakan masih menjaga ketuanannya di ujung utara negeri ini.

Namun, berkendara ke utara Hokkaido bisa menghadirkan satu lagi tantangan khas: pom bensin yang sangat jarang. Boleh dibilang sekitar setelah hampir 100 km an mengemudi, kita akan bertemu Pom Bensin berikutnya. Saya berpegang pada prinsip mutlak: "Jangan pernah biarkan tangki bensin melewati setengah. Begitu tanda tangki bensin menyentuh separuh, segera isi penuh." Di tempat seperti ini, bensin bukan sekadar bahan bakar, melainkan kunci utama kelangsungan perjalanan. Dibawah ini adalah foto yang sempat terekam saat perjalanan keberangkatan.

Sedangkan bila ingin merasakan sensasi suasana mengemudi di Jalanan Route 275 adalah seperti di link video berikut ini : https://youtube.com/shorts/aljh84YN_Ok?feature=share

 

Foto jejak digital di Rute Nasional 275 dan ketika membuat jejak digital di Simpang Empat dekat Roadside Station North Okhotsk Hamatombetsu

Setelah berkendara ratusan kilometer, akhirnya sekitat pukul 16.00 JST saya tiba di Tanjung Soya — ujung paling utara daratan Jepang. Monumen segitiga khas berdiri kokoh menatap Laut Okhotsk yang tenang namun saya merasakan penuh misteri. Monumen Ujung Utara Jepang (日本最北端の地の碑Nihon saihokutan nochinohi). Monumen ini berdiri megah di Tanjung Sōya (宗谷岬, Sōya Misaki), Prefektur Hokkaidō, menandai titik paling utara dari wilayah daratan Jepang. Monumen ini berbentuk segitiga putih, melambangkan garis lintang utara ke-45, sebagai simbol penghubung antara Jepang dan dunia utara. Diresmikan pada 1968, monumen ini bukan sekadar penanda geografis, tetapi juga simbol harapan, kedamaian, dan refleksi sejarah kawasan utara Jepang.

Di sini, dunia seolah benar-benar berakhir. Tidak ada lagi daratan negeri Jepang setelah ini. Dari sini, pengunjung dapat memandang ke utara, melintasi Laut Sōya hingga ke Kepulauan Sakhalin milik Rusia yang hanya berjarak sekitar 43 km jauhnya sekaligus sebagai sebuah pengingat kedekatan geografis namun mempunyai kompleksitas politik yang panjang.

Angin utara sore itu berhembus kencang, tapi tak lagi menggigit seperti di musim dingin dengan langit biru sore itu nampak terang, diiringi awan berarak, udara bersih dan kabut tipis menyisakan pandangan lautnya luas yang seakan tak bertepi ditambah tak cukup banyak pengunjung di sore itu, memperkuat kesan dramatis berada di "ujung negeri Matahari Terbit." Dengan sebuah ketenangan yang menghadirkan rasa syukur bahwa ternyata saya bisa sampai sejauh ini. Sungguh syukur bahwa bisa juga kahirnya saya menapakkan jejak di Monumen ini yang menjadi tujuan populer wisatawan domestik maupun mancanegara yang ingin merasakan sensasi "berdiri di ujung utara Jepang", sekaligus merenungi keabadian alam, sejarah perbatasan, dan identitas nasional Jepang yang berakar kuat hingga ke garis terluarnya.

Dokumentasi jejak digital ketika berada di Tanjung Soya adalah sebagaimana tampak di foto di bawah ini :

 

 

Sementara bila ingin mengetahui dan turut merasakan suasana di sekitar Monumen, dapat dilihat di link : https://youtube.com/shorts/9eVCUA50XGY?feature=share

Tapi perjalanan saya tak sekadar berhenti di monumen itu. Satu per satu saya tapaki titik-titik simbolis paling utara di Jepang yang membuat hati ini dihinggapi berbagai sensasi yang menggetarkan. Setiap langkah di Tanjung Sōya (宗谷岬), di sekitar tempat berdirinya Monumen Ujung Utara Jepang (日本最北端の地の碑), seakan membawa diri ini lebih dekat ke garis tipis yang memisahkan negeri Matahari Terbit dengan hamparan luas dunia utara.

Disisi timur monumen saya menemukan bangunan kecil yang ketika saya dekati adalah bangunan sederhana bertuliskan toilet umum di Soya Misaki dan ini tentu merupakan toilet (umum) paling utara di seluruh Jepang. Dari luar, bangunan tersebut tampak biasa saja. Tak ada penanda khusus yang menyatakan keistimewaannya lalu saya membuka pintu bilik toilet. Di dalam, berderet toilet berdiri untuk buang air kecil , sebuah aktivitas keseharian sederhana yang mendadak terasa monumental. Ketika itu sebuah esensial menghampiri saya bahwa beginilah rapuhnya manusia. Bahkan di ujung utara peradaban, kita tetap tunduk pada panggilan tubuh. Di titik ini, manusia, alam, dan sebuah bangunan bertemu dalam keheningan yang aneh ketika melepas hajat. Seselesai membuang hajat kecil, flush saya tekan. Air berputar dalam pusaran sempurna, seakan membawa semua jejak keberadaanku menyatu dalam arus besar air buangan toilet ini. Di luar, tiang Monumen Titik Paling Utara yang berdiri tegar menatap Arktik, seolah berkata " Hai Cak Tun, di sini, bahkan buang air pun adalah bagian dari catatan sejarah diri menuju kisah keabadian bahwa Cak Tun pernah sampai sejauh ini.”

Jejak digital nya saya dokumentasikan untuk bisa Pembaca nikmati di akses link : https://www.tiktok.com/@japanchannelofficial/video/7508517051711917320

Titik paling utara berikutnya, adalah sebuah bangunan berwarna biru diujung timur area parkir monumen. Ternyata bangunan ini adalah Museum Cape Soya Drift Ice (和名オホーツク流氷館) dengan deretan 4 mesin Jidouhanbaiki (自動販売機), yaitu mesin penjual otomatis atau vending machine berbagai minuman. Tentu ini menjadi museum dan mesin Jidouhanbaiki  yang paling utara di Jepang. Saya beli kopi hangat dari mesin vending machine paling utara Jepang tersebut dan menyeruputnya sambil menatap laut utara, terasa seperti merayakan keberhasilan diri menaklukkan perjalanan ini. Alhamdulillaaaah.

 Karena sudah terlalu petang dan mempertimbangkan jatah waktu saya yang masih tersisa untuk bisa cukup mencapai Terminal ferry Tomakomai, saya memutuskan untuk juga tidak masuk ke museum ini.  Ada perasaan menyesal karena dari informasi elektronik saya mengetahui bahwa museum ini bukan hanya paling utara sebagai lokasi, tetapi merupakan gerbang edukatif ke dunia es yang langka di Jepang—tempat di mana sains, alam keras Arktik, dan teknologi visual bersatu. Bepergian ke ujung utara peradaban Jepang, aktivitas sesederhana menyentuh es menjadi pengalaman penuh makna dan kesadaran ekologis. Ow, sayang sekali ya? Tetapi untungnya masih ada jejak digital dokumentasi sebagaimana di foto berikut ini :

Dan untuk versi videonya, silahkan menikmatinya dengan klik link berikut ini : https://www.tiktok.com/@japanchannelofficial/video/7517595478951759122

Tak jauh di seberang jalan museum ini, saya melihat ada deretan beberapa bangunan yang diantaranya saya menduga seperti sebuah toko oleh-oleh  dan 1 restaurant yang nampaknya juga pasti merupakan Toko Oleh-oleh dan Restaurant paling utara di Jepang. Sayangnya saat itu, kedua tempat itu sudah tutup, sehingga agar tak hilang kenangan, saya sempatkan untuk berfoto ria membuat jejak digital dokumentasinya sebagai foto-foto dibawah ini :

  

Seakan berkejaran tuk memanfaatklan waktu tunggu yang masih tersisa, saya melihat di sisi barat deretan toko tersebut tadi sebuah Jinja (神社), sebuah kuil dalam agama Shinto, agama asli Jepang yang nampak indah dan menarik perhatian saya dan memberi sinyal bahwa sayang untuk mengabaikan mengunjunginya.Kuil yang dimata saya nampak anggun ini, terletak tepat di seberang area Soya Misaki Park, hanya beberapa langkah dari monumen "Titik Paling Utara di Jepang", tepatnya berada di koordinat 45°31′18.6″Lintang Utara, 141°565.2Bujur Timur, menjadikannya sebagai kuil paling utara Jepang yang memberikan kesan syahdu pada setiap kunjungan sebagaimana dicatat oleh japaneserecords.org. Kuil ini dianggap sebagai kuil pembawa keberuntungan dengan tori merah, dan patung anjing penjaga (komainu) yang menyambut peziarah, dibuka 24 jam, tanpa biaya masuk. Kuil ini dipersembahkan untuk 市杵島姫命 (Ichikishimahime-no-Mikoto), dewi air, pelindung anak-anak, pelaut, perdagangan, dan kesenian. Orang yang datang biasanya berdoa agar aman dalam perjalanan, menghindari bencana,keselamatan saat bersalin atau keberuntungan anak, kemakmuran usaha dan finansial, serta kesuksesan dalam seni atau perjalanan. Perpaduan kuil ini antara ibadah tradisional dan pemandangan laut yang luas, sekaligus titik pelengkap ziarah kuil di Jepang menjadikannya sebagai tempat yang tenang, bebas biaya, cocok untuk refleksi batin sambil menghadap laut terbuka. Di tempat sunyi seperti ini, suara hati seolah langsung menembus alam semesta.

Jejak digital foto dokumentasi sebagai berikut :

Suasana makin mendekati temaram dan angin dingin dari Laut Okhotsk  di sore itu seakan tak membiarkan saya melupakan betapa utaranya tempat ini dan membimbing saya untuk mengarahkan kemudi si Mazda Biante saya menyusuri jalan kecil Rute Nasional 238 yang saya lalui berkelok-kelok mengikuti kontur tebing, membawa saya ke sebuah tempat yang bahkan tak banyak muncul di peta wisata, yaitu SDN Omisaki (Omisaki Elementary School /大岬小学校 / Omisaki Shōgakkō), dan ini adalah sekolah dasar paling utara di Jepang. Tidak banyak sekolah di dunia yang bisa mengklaim diri sebagai “paling utara” di sebuah negara. Dan saya pada sore itu telah berdiri di satu sekolah kecil yang memegang kehormatan itu.

SDN yang beralamat di 12-12 Soyamisaki, Wakkanai, Hokkaido 098-6758 ini didirikan pada 1 Juni 1894. Berada di 45 derajat, 30 menit, 49 detik Lintang Utara / 141 derajat, 57 menit, 17 detik Bujur Timur.

Gedung bangunan sekolahnya sederhana dengan warna dominan kuning cerah dan putih. Ketika saya berjalan masuk ke area sekolah itu, tampak beberapa siswa dan 2 orang seperti guru yang sepertinya sedang menyiapkan olah raga sepak bola. Saya memberanikan diri bertanya apakah ini benar SDN paling utara di Jepang, dan salah seorang tua tadi yang mungkin guru, menjawab benar sambil menunjuk sebuah papan penandanya di depan sekolah itu. Saya menilai SDN ini sepi sekali muridnya. Dan ketika saya buka websitenya, benar, ternyata muridnya total hanya 57 orang saja dari kelas 1 hingga kelas 6 yang terdiri 35 murid laki-laki dan 22 murid perempuan dibawah bimbingan 11 orang guru saja. Tapi dari pertemuan dan percakapan singkat sesaat tadi, saya masih bisa menangkap kesan denyut sebuah pusat kehidupan kecil yang hangat. Saya melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana 2  Guru tadi yang nampak tidak hanya mengajar, tapi menjadi keluarga kedua bagi anak-anak yang tumbuh dalam jumlah murid yang sangat sedikit. Di ujung paling utara di Jepang ini saya melihat wajah pendidikan di batas paling utara Jepang yang masih tetap semangat mengajarkan bagaimana hidup berdamai dengan alam, menghadapi kesunyian, serta menghargai setiap perjumpaan manusia. Saya apresiasi raut muka siswa yang sempat saya temui tadi menggenggam cita-cita kecil mereka, menatap laut luas di utara sana dan jika saya membayangkan bahwa saya adalah salah satu murid di SDN ini, suatu hari saya berkata pada sekitar bahwa "Meski terbiasa hidup jauh dari gemuruh keramaian, saya dulu bersekolah di tempat paling utara di Jepang, Omisaki Shōgakkō. Berdiri teguh menggapai cita-cita di tanah yang terus ditiup angin utara."

Ketika saya berjalan meninggalkan halaman SDN Omisaki, saya menoleh sekali lagi ke halaman sekolah dan melampaikan tangan ke meraka sembari berkata sendiri : ” Hari ini saya melihat sendiri bahwa meski jauh di ujung negeri ini, anak-anak kecil tumbuh kuat, bukan karena dilindungi dari kerasnya alam, tetapi justru karena mereka belajar hidup bersahabat dengannya”. Dan saya pulang membawa pelajaran sederhana itu, tentang keberanian menggapai masa depan menenun mimpi, jauh dari keramaian, dekat dengan keheningan laut utara, di sebuah sekolah mungil yang berdiri di tepi negeri Jepang. Dibawah ini adalah beberapa Jejak Digital berupa foto ketika saya menjejakkan kaki di SDN tersebut.

  

Dan untuk versi videonya : https://youtube.com/shorts/dx2sV4DQKmU?feature=share

Saya melirik jam yang muncul di layar HP, masih pukul 16.40 an JST, saya memanfaatkan waktu yang masih tersisa untuk bergeser ke jalanan di arah tenggara dari  sisi monumen "日本最北端の地の碑". Cuma sekitar 2 menitan berkendara saya melihat sebuah bangunan mungil bercat oranye putih dengan tanda lambang khas Post Jepang. Ya, itulah tujuan kecil saya berikutnya di sore itu : Kantor Pos Japan Post Soyamisaki (宗谷岬郵便局). Saya melihat kantor pos ini bukan sekadar titik layanan; ia adalah semacam monumen diam yang tak kalah penting dari tugu monumen yang jauh darinya. Sebenarnya saat itu saya ingin mengabadikan jejak  lewat kartu pos bersampul perangko khas utara  bertuliskan: "日本最北端 宗谷岬郵便局" — simbol bahwa saya pernah hadir di sini, di ujung paling utara negeri sakura. Tetapi karena saya tiba sudah diluar jam layanan, maka cap stempol pos sederhana sebagai salah satu bukti perjalanan yang tak semua orang bisa tempuh, tidak bisa saya dapatkan. Kecewa dikit sih ya. Tapi tak apa, khan masih ada jejak digital foto dan video yang saya buat. Dan akhirnya saya berjalan keluar dan ketika pintu kaca otomatis terbuka, samar-samar di kejauhan, saya bisa membayangkan Pulau Sakhalin milik Rusia, hanya sekitar 43 kilometer dari sini. Begitu dekat, namun juga terasa sangat jauh. Saya merasa amat bersyukur bisa ke tempat ini. Sebuah kantor pos kecil yang mengajarkan satu hal bahwa bahkan di tempat yang paling ujung, paling sunyi sekalipun, kehidupan komunikasi tetap berjalan. Surat-surat tetap diantarkan. Jaringan komunikasi tetap terhubung. Dan keramahan manusia tetap hadir. Di sini, di tempat di mana daratan Jepang seolah mengucapkan "sampai di sinilah aku", kantor pos mungil ini berdiri teguh — bukan hanya sebagai layanan logistik, tetapi sebagai penanda kehadiran manusia di batas geografis.

Dan sebelum keluar, mata saya melirik sebuah mesin ATM JP Bank di sudut ruangan dekat pintu masuk. Ada sensasi lucu namun monumental saat jari saya menekan tombol ATM itu, sebuah transaksi biasa yang terasa istimewa hanya karena posisinya yaitu tak ada ATM lain yang lebih utara dari sini di seluruh negeri ini.

   

Foto di kantor Pos paling utara di Jepang serta sensasi bertransaksi di mesin ATM paling utara di Jepang, sebagaimana foto-foto diatas, sedangkan versi videonya adalah di link berikut ini : https://youtube.com/shorts/Fxjg8kzYosE?feature=share

Disisi lain, di Kantor Pos itulah, takdir punya cara tersendiri yang khas untuk mempertemukan saya dengan sesama anak Nusantara di tempat yang tak pernah terbayangkan. Seorang pemuda membalas ramah sapaan saya. Ia memperkenalkan diri sebagai pemagang muda dari Probolinggo, Jawa Timur. Sedang menjalani program magang peternakan sapi di sekitar kawasan ini , di belakang bukit disisi belakang Kantor Pos itu katanya. Dia jauh dari kampung halaman, meniti harapan, menguatkan cita-cita di negeri asing. Ketika itu saya amat bersyukur bisa bertemu pemuda yang penuh semangat itu. Sore itu dua anak bangsa, dua generasi yang berbeda, dua perjalanan berbeda, yang entah bagaimana dipertemukan begitu saja di ujung dunia. Ada rasa haru dan bangga. Melihat semangat anak muda ini, saya seperti melihat refleksi dari semangat banyak anak Indonesia yang berani menembus batas demi masa depan.

Dan agar pembaca bisa ikut hanyut pada suasananya, inilah video dokumentasinya : https://www.tiktok.com/@japanchannelofficial/video/7507956817855646994

Saat matahari mulai makin turun menuju peraduannya di ufuk barat, saya kembali ke mobil , tetapi sebuah info bahwa masih ada satu lokasi paling utara di Jepang yang masih belum saya datangi ketika itu dan itu seolah mencengkeram kaki saya untuk tidak buru-buru menginjak pedal gas . Akhirnya saya ikuti kata hati ini menuju SMP (Sekolah Menengah Pertama) negeri paling utara di Jepang , yaitu Wakkanai Municipal Sōya Junior High School (稚内市立宗谷中学校), yang berada tepat sekitar 5km barat daya dari Tanjung Sōya dengan  lokasi di koordinat sekitar 45°29′40.5″Lintang Utara , 141°5254.7Bujur Timur benar-benar menjadikannya sebagai SMP yang paling utara di Jepang di bawah pengelolaan publik di kota Wakkanai, Prefektur Hokkaido, dengan status sebagai SMP negeri (市立中学校) .

Sungguh saya amat bersyukur bisa berkunjung ke Wakkanai Municipal Sōya Junior High School , sekolah negeri paling utara di negeri ini. Di sana meski sekilas saya melihat anak-anak belajar bukan hanya dari buku, tapi juga dari alam yang keras -angin Laut Okhotsk, dingin utara, dan kearifan lokal nelayan yang turun-temurun. Setiap hari mereka menimba ilmu tentang laut: mengenal udang, kerang, sotong, dan cara mengolahnya. Pendidikan di sini bukan sekadar teori, melainkan kehidupan dan alam itu sendiri yang menjadi guru sejati. Sekolah ini tampaknya bukan sekadar tempat belajar. Dari sekolah ini saya melihat sebuah simbol keteguhan manusia yang tumbuh di batas dunia, di mana alam keras justru melahirkan ketangguhan dan harapan yang sempat terdokumentasikan pada foto berikut ini :

  

Akhirnya tibalah waktu saya ketika itu untuk melanjutkan penyusuran jalanan panjang yang mengantar saya kembali menuju Terminal Ferry Pelabuhan Tomakomai, menjemput jam keberangkatan Silver Ferry pukul 23.59 JST malam itu menuju Hachinohe.

Perjalanan hari itu jauh lebih dari sekadar mengisi waktu kosong. Bisa jadi itu nanti menjadi warisan catatan kecil perjalanan menembus batas, menghirup kesunyian alam ujung negeri Sakura , menjejak ujung bumi matahari terbit, dan menemukan makna silaturahmi sesama anak Nusantara di titik paling utara Negeri Matahari Terbit. Tepat pukul 22.55 JST, satu jam menjelang keberangkatan kapal, saya telah tiba dengan selamat di halaman terminal setelah hampir 6 jam menyusuri Route Nasional Nomor 40 lanjut ke Jalan Tol Route E5. (cTun)

 

*) Penulis adalah seorang pensiunan PNS Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang saat ini sedang melanjutkan hidup dan kehidupan dengan berkarir profesional sebagai engineering leader di Jepang sejak  2020. Peraih beasiswa Honor Monbukagakusho (2015-2017) dan Beasiswa Yamaguchi University Scholarship (2017-2018) juga pernah tercatat sebagai dosen tetap pada INI Dalwa Bangil Pasuruan dan dosen tamu pada Fakultas Hukum - Universitas Wijaya Putra Surabaya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman asyik, Jumatan ku hari ini

28 Tahun Perjalananku