Senin, 08 Februari 2016

MENYERAH ?...YA “ GAK PAYU” ….., REK !!!
(Sebuah tulisan kecil untuk berbagi bila ingin bersekolah di negeri sakura)
Oleh :
TUN AHMAD GAZALI, SH., M.Eng.  *)




Melanjutkan Sekolah di Jepang lagi untuk S3?
Gratisan?....gak mungkin…..
Ono rego ono rupo…
Sekolah ya kudu bondo, Cak Tun
Umurmu juga udah berapa, Cak?
Itu Mimpi, Cak Tun…Mas Tun…Dik Tun…Pak Tun….
ayo bangun bangun…..
Banyak kalimat-kalimat seperti itu saat saya mempunyai mimpi dan asa untuk kembali melanjutkan studi S3 di Jepang, tapi terhambat masalah biaya dan umur yang sudah diluar ambang batas usia tertua untuk melamar beasiswa.
Dan kemudian, muncul berbagai kalimat lainnya…
“Selamat ya”…….
”wah Dik Tun ini selalu beruntung deh”…
”wow..pengen deh kayak Mas Tun…’’
‘’eh..bagi-bagi dong cara dan kiat bisa bolak balik ke luar negeri dan sekolah di Jepang……’’
‘’weeei Pak Tun gampang banget ya bisa nembus sekolah di Jepang?’’
kalimat-kalimat yang seperti di atas itu juga banyak aku terima menjelang dan bahkan saat saya ternyata bisa tiba kembali di Jepang guna melanjutkan studi S3 di Yamaguchi University-Japan ini.
Padahal…?
Ya tidak segampang itu kaleeeee…..dan juga sebenarnya tidak sesulit yang dibayangkan kok, Teman.
Sinpai Sinai de kudasai….Jangan kuatir..do not be worry.
Ada tahap dan perjuangan yang kudu nikmati untuk  kita tempuh.Saya katakan kudu nikmat karena memang sering ujung-ujungnya tidak langsung sesuai harapan saat saya mengajukan surat/email permohonan sekolah lanjut dengan tanpa biaya…..tanpa biaya inilah yang mungkin menjadi alasan mendasar sering ditolaknya tawaran permohonan lanjut sekolah saya.
Bersama tulisan yang masih sangat jauh dari sempurna ini, dengan model serta gaya kalimat yang tidak terlalu formal dan ringan, agar mudah dicerna, saya akan mencoba sharing disini guna lebih banyak lagi generasi muda Indonesia (bahkan yang sudah usia diluar syarat beasiswa, seperti saya)  yang berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan keluar negeri, khususnya Jepang.
Sebelumnya, perkenankan saya memperkenalkan diri. Saya, Tun Ahmad Gazali, saya lulus S1 tahun 2001 dari Fakultas Hukum Universitas Wijaya Putra Surabaya dan (Alhamdulillah) dapat lanjut kuliah untuk menyelesaikan Master of Engineering (M.Eng.) saya di Department of Ecomaterial Science and Engineering, Graduate School of Science and Engineering – Saga University Japan dengan biaya penuh dari Profesorku saat itu (Prof. Ixxxxxxx) dan saat ini (tak terasa sudah hampir 5 bulan berjalan)  sedang berjuang untuk pulang dari Yamaguchi University di Ube city-Japan nanti dengan gelar kebanggaan……. PhD !!!.
Bisa benar-benar berada disini, seperti sebuah mimpi disiang bolong yang selalu ditertawakan orang bahkan oleh diri saya sendiri, saat saya ungkapkan asa dan cita saya ini, untuk kembali melanjutkan studi di luar negeri yang gratisan.
Mengapa ya saya dalam hampir 10 tahun terakhir sangat antusias dan berusaha keras menggapai mimpi, niat dan asa melanjutkan kuliah S3 ke luar negeri terus menggebu dan menggelora sepulang selesai S2 di tahun 2006 lalu? Alasan utama ingin kuliah di luar negeri adalah sederhana, selain untuk menimba ilmu dan lebih memperluas wawasan, saya ingin merasakan hidup di dunia yang sama sekali berbeda dengan negara di mana saya dibesarkan dan meningkatkan kualitas hidup dan pola pikir  berkelas dan berkualitas dunia.


Foto 1 . Kenangan disaat waktu luang Kuliah S2 di Saga University-Japan,
menghibur anak istri keliling kota Saga

OK..OK..kita mulai yuk menyimak tulisan saya berikut?...
Jalan sekolah lanjut S3 saya ini bermula di Oktober 2006, saat baru lulus S2 dari Saga University Japan, dan sebagai PNS di Pemerintah Provinsi Jawa Timur , tentu saya harus kembali berkutat dengan kesibukan sehari-hari sebagaimana yang telah saya jalani hampir terhitung 27 tahun jika sampai 1 Maret 2016 ini.
Sebagai PNS (sekarang sudah berubah menjadi ASN-Aparatur Sipil Negara) yang memulai dari pangkat yang amat rendah (Juru Muda Tingkat I atau I/b) pada 1 Maret 1989 dan pribadi yang selalu ingin membesarkan potensi diri, Sungguh…melanjutkan pendidikan informal khususnya pendidikan formal ke jenjang yang lebih tinggi selalu menjadi asa dan impian terbesarku hingga kelak bisa menjadi panutan anak-anakku, masyarakat secara umum dan kebanggaan keluarga khususnya. Namun, bak ungkapan pungguk merindukan bulan, dari segi kondisi keuangan, saya menjadi sempat tidak begitu yakin kalau niat dan asa itu akan kesampaian.
Hampir 10 tahun dan khususnya lebih intensif ada 5 tahun terakhir, sambil menunggu kesempatan ada Profesor yang tertarik dengan research  study plan yang selalu saya lampirkan bila mengirim surat/email perkenalan dan permohonan, saya mengajar (disela waktu luang di Sabtu dan Minggu) dibeberapa Universitas di Surabaya dan di Bangil-Pasuruan. Kegiatan baru inipun mulai saya tekuni, mengabdikan segenap pikiran, kemampuan dan pengalamanku untuk berbagi ilmu dan spirit global dengan para mahasiswsaya, kalangan civitas akademika dan masyarakat sekitar. Ternyata hal ini merupakan sebuah kebanggaan dan nikmat tersendiri bagiku. Ya, setidaknya apa yang telah saya pelajari di Jepang selama 2 tahun masa studi Saga University Japan, dan 10 bulan short course di ‘’ Saga ken Kankyo Kagaku’’ (sebuah BUMD bergerak dalam pemantauan limbah milik Pemerintah Provinsi Saga di Jepang)  bisa kuamalkan dan kubagikan.
Tak terasa sudah masuk tahun kedelapan usaha saya ini mencari peluang sekolah lanjut sekembali dari selesai S2 yang terus tak bosan aku lakukan. Tiap hari  bersurfing ria menjelajah dunia maya internet. Mengumpulkan berbagai informasi tentang sekolah lanjut S3 yang gratis diluar negeri, mencari sponsorship dan Professor dari seluruh dunia yang berkenan dengan research study plan ku.
Namun, harus sering gigit jari karena kesemuanya memberikan jawaban bahwa aplikasi / research study plan yang kususun, ditolak. Saat itu saya merasa sangat sedih, karena mengingat usia yang sudah tidak muda lagi guna melamar dari jalur beasiswa umum (saya  kelahiran 1969 dan umumnya batasan usia adalah maksimal 38 tahun), maka bagi saya yang ‘’ tidak bondo’’ ini, mencari sponsorship yang mau membiayai adalah satu-satunya cara untuk bisa pergi sekolah ke Jepang serta juga terus dan tanpa lelah bersurfing di internet untuk memperoleh kesempatan ke Jepang. Tapi hasilnya tetap nihil.
Sempat sih putus asa dan belajar mengikhlaskan menghapus keinginan saya untuk sekolah di Jepang itu, tapi dorongan untuk sekolah makin menggelora. Pikirku, bolehlah aku merasa putus asa tapi ya jangan sampai tidak terus berusaha. Saya Positive thinking  saja dan terus berusaha, tetap optimis bahwa saya pasti bisa,bisa,bisa. Yakin Bisa.
Sebagai mantan anggota Pramuka Satuan Karya Bhayangkara ex Polwiltabes Surabaya angkatan XIII-tahun 18985 yang selalu diasah dan dididik untuk tidak boleh menyerah kepada keadaan, saya tidak menyerah.
Saya amat yakin dengan kalimat ‘’ jika kita berusaha, Tuhan akan memberi”. Harapan untuk lanjut kuliah diluar negeri belum mati. Guna lebih membuat lancar, mudah dan ringan atas niat dan upaya saya ini, saya segera menemui Ibu dan meminta perkenan doa restu Beliau. Alhamdulillah beliau berkenan dan mendukung niat dan asa ini. Terima kasih, Ibu.
Ananda disini guna mewujudkan mimpi, asa, harapan dan doa Ibu dan Bapak.
Saya harus mencari jalan terobosan yang berbeda. Bila saya selalu gagal disyarat usia dalam beasiswa formal dan dicara saya mengirim email ke Profesor yang acak di internet, saya harus ganti cara yang bisa dibilang ‘’ora umum’’, nekat dan           ‘’ gak bondo’’ dalam niat sekolah diusia yang tidak muda lagi ini; Saya harus mencari Profesor yang tepat dan bisa diajak berkomunikasi dengan intens terlebih dahulu. Saya terus berusaha memperluas network, terus produktif dan menyempurnakan research – study plan ku, dan berdoa. Saya berpikir dan yakin mungkin saja saya beruntung menemukan Profesor yang punya uang dan mau membiayai seperti saat saya menempuh S2 dulu. Saya akhirnya mencoba directly mengirim email ke beberapa Profesor yang lebih jelas dan tidak asal kirim di seluruh dunia untuk berkenan menjadi Profesor penjamin saya.
Tanda-tanda keberuntungan tiba, disuatu pagi lepas subuh di hari Minggu pertengahan September 2014, saya menerima 3 email sekaligus dengan respons amat positif dari 3 orang Professor. Mereka adalah Prof. Kxxxx dari Turki, Prof. Exxx dari Jerman dan Prof. Axxxxx dari Jepang.  Alhamdulilah, ketiga Profesor itu merespon baik dan mengajak berdiskusi lanjut mengenai mimpi dan alasanku menjadi Doctoral Student mereka. Ini jalan terbuka yang amat bagus dan sayapun tidak membuang waktu lama, begitu setiap ada email-email mereka, saat itu juga saya respons dan saya jawab langsung semua pertanyaan mereka. Tapi, dua dari mereka mulai terlihat mengurangi perhatian lanjut khususnya saat pembicaraan kami mulai terkait bagaimana keuangan dan biaya hidupku nantinya disana. Di email, selalu kusampaikan bahwa saya pengen sekolah dan mohon bantuan mereka sebagai mahasiswa yang tidak punya biaya.
Hanya Professor Aziz sensei yang terus intens dan terus mengajak komunikasi termasuk menanyakan apa kiat dan upaya saya nanti bila sebagai mahasiswa Doktoralnya dengan status ‘’ self funded student ’’. Dengan percaya diri dan yakin, saya langsung menjawab bahwa bila beliau benar-benar berkenan menerim, saya akan belajar giat, serius, akan mengerjakan semua arahan beliau, siap mengembangangkan dan mengaplikasikan hasil studi serta tidak keberatan mengerjakan pekerjaan apapun asal diterima sebagai mahasiswa S3 beliau. Allahu Akbar….ternyata beliau menjawab singkat namun mantab dalam sebuah emailnya tertanggal 18 April 2015 ‘’ Dear Mr. Tun, Thank you for your mail. Okay I understand the situation. As I mentioned before, please be sure that I am totally agreed to take you as a PhD student. Regarding the funds we will try together after you will join in my lab. With regards ’’
…..wow….wow….wow…wow…Allahu Akbar.
Saya langsung menjawab siap. Saat menjawab itu, saya amat  yakin bila kesempatan ini saya ambil dan jalani, saya akan dapat lebih banyak pengalaman belajar di negeri orang yang otomatis akan membuka pengetahuan terhadap ilmu dan hidup. Sedikit banyak tiga tahun masa belajar S3 (dan semoga bisa sampai menambah 2 tahunan untuk lanjut Postdoctoral) pasti akan membentuk dan meningkatkan kualitas serta karakter pribadiku. Ditambah lagi, meskipun program studi S3 yang akan saya tekuni dalam 3 tahun kedepan ini tidak sesuai dengan jurusan saat waktu masih S1 dulu (saya lulusan 2001, Fakultas Hukum Universitas Wijaya Putra Surabaya), namun itu tak membuat menggurungkan niat mengejar cita-cita dapat bersekolah lebih tinggi. Justru berbeda itulah saya sangat ingin belajar lebih lanjut ke Jepang.Saya tidak mau patah semangat, bagiku seribu jalan menuju Jepang, seribu jalan menuju mimpi ku di Jepang… Ganbatte aja pikirku !” 
Alhamdulillah, satu tahap amat penting dan mendasar telah saya lewati untuk mencari tiket lanjut S3 di luar negeri, dan saya akan kembali ke Jepang lagi. Untuk memastikannya, saya menelpon beliau dan mendengar langsung suara beliau yang terdengar sabar dan bijak serta benar-benar ‘’welcome’’ pada niat niatku, beliau mengatakan asal saya bisa benar-benar sampai di Jepang, dia yang akan menanggung dan mengatur semua kebutuhan sekolah Doktoral dan hidupku selama menjadi student beliau. Alhamdulillah…Tuhan benar-benar memberi jalan.
Sekarang, ‘’masalah baru’’ menghadang, sebagai PNS, saya tidak bisa begitu saja bebas berangkat. Perlu berbagai proses cukup ribet agar saya dibolehkan mengikuti tawaran emas ini dan status sebagai PNS tetap terjaga selama saya belajar 3 tahun nanti. Bagaimanapun, saya masih akan meninggalkan istri dan keempat anak-anak kami di Indonesia paling tidak 6 bulan pertama, dan mereka butuh nafkah lahir dari ‘’sisa’’ gaji perbulanku.
Akhirnya, saya memberanikan diri meminta Profesor mengirim surat kepada Bapak Gubernur Jawa Timur. Dan Profesorku ini memang benar-benar serius menerimaku, terbukti beliau benar-benar mengirim surat resmi permohonan tawaran mengikuti pendidikan S3 sebagai mahasiswa beliau dengan pembiayaan melalui ‘’Teaching Assistanceship (TA) dan Research Assistanceship (RA)’’ ke Bapak Gubernur Jawa Timur dan singkat cerita, Allahu Akbar, Alhamdulillah, tawaran Profesorku tersebut disetujui dan saya diijinkan untuk mengikuti seleksi dan sekolah S3 di Graduate School of Science and Engineering, Yamaguchi University Japan. Dan petunjuk Beliau melalui disposisi Bapak Sekretaris Daerah Jawa Timur, langsung menghapus kabar dan asumsi yang  beredar bahwa saya harus kehilangan hak dasar bulanan sebagai PNS karena dianggap tadinya saya harus mengajukan cuti atau ijin belajar.
Alhamdulillah, setelah proses administrasi yang amat dimudahkanNya, karena orang-orang yang saya temui dan saya minta tolong terkait proses perijinan (yang ternyata adalah ‘’Tugas belajar’’), semuanya welcome dan membantuku amat cepat dan penuh kesan persahabatan sebagai sesama aparat Pemprov. Jawa Timur, termasuk teman-teman lama di Pusat Administrasi Kerjasana Luar Negeri-Kementrian Dalam Negri, Kementrian Sekretariat Negara dan Kementrian Luar Negeri di Jakarta. Surat Tugas Belajarku untuk 3 tahun sampai 2018 selesai tak lama menjelang keberangkatan. Terima kasih banyak atas perkenan bantuan ’’Antum’’ semua. Tuhan pasti akan membalas kebaikan bantuan proses yang telah ‘’Antum’’ berikan.
Karena terlena dengan kesibukan administrasi, saya kurang fokus pada masalah transportasi ke Jepang. Tak terkira ternyata harga tiket sudah amat tinggi dari sebulan sebelumnya, dan itu diluar asumsi persiapan saya sebelumnya. Akhirnya saya memutuskan membeli dulu tiket penerbangan menggunakan Airasia yang paling murah saat itu, dengan uang hasil menjual sepeda motor Honda Revo kesayangan kami. Saya menghibur istri dan anak-anak, bahwa nanti uangnya akan diganti Profesor setiba saya di Jepang.
Alhamdulillah, setelah perjalanan udara yang cukup melelahkan dari Surabaya dan transit di Kuala Lumpur, akhirnya tepat 28 September 2015 pukul 23.50 Japan Local Time, dihiasi cahaya terang bulan purnama,  saya benar-benar tiba di Kansai International Airport di Osaka-Jepang.
Karena sudah larut malam, tidak ada transportasi lanjutan ke Yamaguchi. Dan saya memutuskan menjadi ‘’gelandangan intelek’’ dengan menginap semalam di Lantai 2 airport tersebut. Dan ternyata banyak juga teman sesama ex penumpang lainnya yang istirahat disitu. Tiap setengah jam petugas keamanan bandara juga keliling dan menanyai identitas/passport. Jadi…...terasa aman deh.


Foto 2 Suasana menggelandang di Kansai International Airport, Osaka-Japan

Dan setelah menggelandang semalam di Kansai, pada 29 September 2015 sebelum azan dhuhur, saya benar-benar tiba di Kampus kebanggaanku…… Yamaguchi University, Japan!!!!.











Foto 3-6. Saya di Kampus 

Profesorku benar-benar memegang janjinya, dikesempatan pertama bertemu beliau, yang dia berikan ketanganku adalah selembar surat pemberitahuan dari JASSO (The Japan Student Services Organization) bahwa saya menerima beasiswa ‘’Honor Monbukagakusho’’ sebesar JPY 48.000 perbulan dari Oktober 2015 - Maret 2016. Alhamdulillah, karena saya tidak pernah merasa mendaftar, tapi bisa mendapatkan beasiswa itu, maka surat itu benar-benar membuat kejutan di awal pertemuan dengan beliau, dan beliau menjelaskan untuk tidak perlu kuatir akan biaya pendidikan dan biaya hidupku disini, karena beliau benar telah menyiapkan pembiayaanku melalui beberapa jalur, yaitu saya mendapat kesempatan ‘’ Teaching Assistanceship dan Research Assistanceship’’ sebesar JPY 1.379 perjam dari Kampus sebagai asisten beliau mengajar, juga saya direkomendasikan beliau untuk ikut seleksi beasiswa fakultas dan beasiswa lokal lainnya serta perkenan ijin beliau untuk saya melakukan ‘’Arubaito / Part Time Job’’ kerja paruh waktu di luar jam kuliah. Dan keberuntungan lagi-lagi selalu diberikan Allah SWT, saya dimudahanNya bekerja di café kampus dan di sebuah restoran cepat saji terkenal di Jepang, sebagai tenaga cuci piring dan alat makan/minum serta juru masak. Alhamdulillah.
Insya Allah, hasil dari bekerja paruh waktu itu cukup banyak membantu untuk biaya hidup disini serta memberi nafkah lahir ke istri dan keempat anak yang masih saya tinggal di Indonesia, serta juga untuk persiapan liburan dan menjemput mereka ke Indonesia secepatnya tahun ini, hehehe.
Oh ya, di Kota Ube, Prefekture Yamaguchi – Japan sini, Alhamdulilah, Professorku telah menyediakan tempat berteduh yang amat nyaman di ‘’Kokusai Kouryou Kaikan’’ ( Ube International House) di single room bertarif JPY 11.200 perbulan belum termasuk biaya pemakaian air, gas dan listrik yang perbulannya rata-rata sekitar total JPY 6.000. Saya amat bersyukur dengan keseharian di kota ini. Kota Ube tempat saya tinggal ini, tergolong kota kecil nan bersahaja. Kualitas hidup yang tinggi tercermin di kehidupan sehari-hari, seperti fasilitas transportasi sampai sanitasi yang lengkap dan terjaga kebersihannya, serta suasana alam yang indah, bersih, tertib, disiplin dan udara bebas polusi. Kontur tanahnya yang naik turun bergunung-gunung, membuat nyaman dan bagus buat kesehatan tubuh karena dalam keseharianku, saya menggunakan sepeda dan jalan kaki. Budaya hidup dan budaya belajar di Jepang sini sangatlah menunjang dan mendidik saya untuk berusaha keras meraih mimpi. Suasana disini mendidik kami untuk selalu teliti, sistematis, disiplin, bekerja keras, terus selalu semangat dan mengembangkan rasa respect. Insya Allah tak salah mengapa saya memilih Jepang lagi sebagai tempat menuntut ilmu setelah S2ku di Saga University sebelumnya.
Alhamdulillahsaya benar-benar sekolah S3 di Jepang. Bergabung dengan ribuan mahasiswa Asing di Jepang. Jangan takut berangkat walau berstatus ‘’self funded student’’ Asal ada jaminan tertulis dan meyakinkan dari Profesor yang mengundang kita, pasti akan banyak jalan yang diberikan untuk mewujudkan mimpi dan asa kita’’.

Foto 7. Bangga dan bersyukur bisa benar menjadi bagian dari Foto ini sesaat setelah welcome party bagi mahasiswa asing baru di Yamaguchi University-Japan.

Dari yang telah saya tulis dan alami, saya mengajak pembaca untuk tidak takut bermimpi dan meraih asa dengan cara yang berbeda, ’’ ora umum’’, nekat dan sempat dibilang ‘’ gak bondo’’. Karena dalam ke ‘’ora umum’’ an itu kita menjadi berbeda, menjadi lebih terlihat dan dan bisa menunjukkan potensi kita.
Akhirnya saya bisa benar-benar mewujudkan mimpi dan asa ku sebagai ‘’Seorang PNS yang hanya modal tekad, otak, optimis dan doa yang akhirnya benar bisa sekolah S2 dan S3 secara gratis di negara Matahari Terbit”.  Dan saya yakin ‘’ Antum’’ semua pasti bisa yang penting jangan hilangkan mimpimu dan terus mau berusaha walau pernah gagal.
Memang, jangan malu dengan mimpimu, jika ada kemauan dan usaha dibarengi doa restu orang tua dan teman-teman kerabat….
Bila ingin bersekolah di negeri sakura …Menyerah..? …ya“ gak payu” ..rek !!!
Banyak jalan (mewujudkan asa dan mimpimu) bersekolah di negeri sakura !!!!!!.

*)
Penulis adalah Kasubid Sistem Informasi pada Badan Penanaman Modal (BPM) Provinsi Jawa Timur; Mahasiswa Tugas Belajar Doktoral pada Graduate School of Science and Engineering - Yamaguchi University,Japan (2015-2018); Alumni Master Student pada Graduate School of Science and Engineering – Saga University Japan (2004-2006)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar